Home /
kisah islam
/ RUPANYA SHAHABAT NABI UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU PUNYA REKENING DI BANK SAMPAI SEKARANG
0 RUPANYA SHAHABAT NABI UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU PUNYA REKENING DI BANK SAMPAI SEKARANG
Diposting oleh Unknown on 06.19 · 0 komentar
Waqaf ini berupa bangunan hotel yang disewakan.. Tahu ga kalau khalifah Utsman bin Affan, salah seorang sahabat nabi yg pebisnis dan kaya raya, tapi murah hati dan dermawan.., ternyata memiliki rekening di salah satu bank di Saudi???
Bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau… Gimana ceritanya hingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??
Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih.
Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zamzam.
Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut. Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.
Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari”
demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya. “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata
“Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar2.. setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak2 yatim dan fakir miskin.. sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian..
Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yg cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi. Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5.
Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun. Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.. Subhanallah,…
Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi.. Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
Bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau… Gimana ceritanya hingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??
Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih.
Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zamzam.
Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut. Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.
Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari”
demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya. “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata
“Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar2.. setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak2 yatim dan fakir miskin.. sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian..
Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yg cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi. Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5.
Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun. Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.. Subhanallah,…
Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi.. Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
2 Sebelum Tahun 1929 Tradisi Muhammadiyah Ternyata Sama Dengan NU
Diposting oleh Unknown on 05.26 · 2 komentar
MuslimPos- Sebuah buku berbentuk ebook yang disebut-sebut sebagai Kitab Fiqih Muhammadiyah Awal, diupload di sebuah blog pustaka-darulhikmah.blogspot.com, yang isi buku tersebut menjelaskan tentang tradisi fiqih Muhammadiyah pada awal-awal Muhammadiyah itu berdiri.
Dengan penjelasan kurang lebih seperti berikut :
Buku yang berjudul BUKU KITAB FIQH JILID TELU tersebut dikarang dan diterbitkan oleh MUHAMMADIYYAH bagian TAMAN PUSTAKA Djokjakarta, yang diterbitkan pada tahun 1343 Hijriyyah.
Jika melihat isi buku tersebut dapat disimpulkan bahwa antara NU dan Muhammadiyyah, dari sisi amaliyahnya itu dulunya sama. Antara lain seperti bacaan Iftitah, sholawat yang menggunakan kata sayyidina,dzikir setelah sholat, dan lain sebagainya.
Jika melihat isi buku tersebut dapat disimpulkan bahwa antara NU dan Muhammadiyyah, dari sisi amaliyahnya itu dulunya sama. Antara lain seperti bacaan Iftitah, sholawat yang menggunakan kata sayyidina,dzikir setelah sholat, dan lain sebagainya.
Pertama dalam bab WACAN SHOLAT LAN MA’NANE halaman 25, bacaan IFTITAH-nya KABIROWWALHAMDULILLAHI KATSIRO…. bukan ALLOHUMMA BAA’ID….
Kedua pada halaman 26 Fatihah menggunakan BASMALAH….
Dan ketiga dalam halaman 29, sholawat yang dibaca dalam tahiyyat menggunakan SAYYIDINA
Dan semua itu dipertegas dalam BAB PIRANGANE RUKUNE SHOLAT pada halaman 31-33. Kecuali masalah sholawat, di bab ini dijelaskan sholawat adalah Allohumma sholli ‘ala Muhammad. Dapat disimpulkan, penjelasan itu sekedar menunjukkan bahwa bacaan sholawat itu cukup dengan ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD, bukan membid’ahkan sayyidina….
Kemudian dipertegas lagi dalam rukun hutbah halaman 57, membaca sholawat menggunakan sayyidina.
Keempat pada halaman 27 dijelaskan adanya QUNUT dengan Dow ALLOHUMMAHDINII…..
Kelima pada halaman 57 khutbah jum’at, dua kali.
Dan keenam dzikir ba’da sholat pada halaman 40-42, dengan bacaan sebagai berikut :
- astaghfirullohah adziim alladzii paar ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum waatuubu ilaiih… 3 Kali
- allohumma antassalam…. 3 Kali
- subhaanalloh 33 Kali
- Allohu Akbar 33 Kali
- Alhamdulillah 33 kali
Kesimpulannya bahwa tradisi ilmu fiqh di kalangan Muhammadiyah sebelum tahun 1929 memang tak berbeda jauh dari tradisi di NU.
Jadi, buku itu tak terlalu mengejutkan (justru mengokohkan pandangan yg selama ini beredar). Bahwa perubahan di Muhammadiyah itu terjadi, diantaranya, karena pengaruh Haji Rasul (dan Muhammadiyah Sumatra Barat) yangg cukup menentukan corak pemahaman fiqh Muhammadiyah. Adagium yg cukup dikenal ialah Muhammadiyah lahir di Yogya, tapi secara ideologi dibentuk di Sumatera Barat. Peacock sudah pernah membahas persoalan ini. Pembentukan Majlis Tarjih di sekitar tahun 1928 juga mengokohkan pergeseran ini. Pendeknya, fiqh bukan menjadi concern utama Muhammadiyah awal, mereka lebih sibuk pada feeding (panti asuhan), healing (rumah sakit), & schooling (sekolah).
Kitab Fiqh di atas itu terbit tahun 1343 atau sekitar 1924, belum lama setelah KH Ahmad Dahlan meninggal. Ada beberapa kajian tentang itu. Tapi intinya, banyak ritual yg masih sama dengan NU. Termasuk KH Ahmad Dahlan masih tahlilan ketika dulu ayahnya meninggal. Proses perubahan itu banyak terjadi ketika ideologi Muhammadiyah terbentuk, diantaranya dimulai oleh Haji Rosul dari Sumatra Barat setalah KH Ahmad Dahlan meninggal. Makanya sering disebut, Muhammadiyah lahir di Yogya, tapi memiliki ideologi dr Sumatra Barat. Mas Mansur juga berperan dalam purifikasi di Muhammadiyah. Dia dari Surabaya dan memimpin Muhammadiyah tahun 1930-an.
Bagi yang penasaran dengan buku di atas, buku tersebut dapat diunduh di link ini.
[pustaka-darulhikmah/zn]
sumber:muslimpos.net
0 fitnah terdahsyat itu bernama wanita
Diposting oleh Unknown on 17.49 · 0 komentar
Dunia itu indah penuh tipuan
Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dunia ini begitu indahnya, membuat terkagum-kagum setiap orang yang memandangnya.
Tak jenuh dan bosan setiap orang berusaha untuk menikmati keindahannya, mereguk kenikmatannya,
mati-matian tuk mendapatkannya.Bahkan dengan menghalalkan segala cara.
mati-matian tuk mendapatkannya.Bahkan dengan menghalalkan segala cara.
Dengan semboyan “mumpung masih muda, mumpung masih punya jabatan,
mumpung masih punya harta…dst” mereka melampiaskan segala syhahwat mereka.
Begitu beragamnya keindahan dunia yang menipu banyak manusia, menjungkir balikkan mereka ke lembah kenistaan di dunia, sebelum dibenamkan dalam keadaan tersungkur ke dalam neraka jahannam kelak—iyazan billah–.
mumpung masih punya harta…dst” mereka melampiaskan segala syhahwat mereka.
Begitu beragamnya keindahan dunia yang menipu banyak manusia, menjungkir balikkan mereka ke lembah kenistaan di dunia, sebelum dibenamkan dalam keadaan tersungkur ke dalam neraka jahannam kelak—iyazan billah–.
Tidak sedikit orang mulia berubah menjadi hina dina, terhormat menjadi terlaknat, dipuji dan disanjung menjadi tersandung….semua disebabkan ambisi untuk meraih dunia. Bukanlah hal aneh jika seorang pejabat ataupun ustadz berubah menjadi penjahat, tatkala kesabarannya habis berhadapan dengan godaan tumpukan harta, tenggelam dalam pelukan wanita…inna lillah wa inna ilahi rajiun.
Alquran telah menggambarkan betapa manusia diuji dengan segala keindahan dunia ini dalam firmanNya:
زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب).سورة آل عمران. آية: 14
Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita, anak-anak,tumpukan-tumpukan emas dan perak, kuda-kuda yang mahal, binatang ternak dan sawah lading, itu semua hakikatnya hanyalah kenikmatan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik. QS: Al-Imran: 14.
زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب).سورة آل عمران. آية: 14
Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita, anak-anak,tumpukan-tumpukan emas dan perak, kuda-kuda yang mahal, binatang ternak dan sawah lading, itu semua hakikatnya hanyalah kenikmatan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik. QS: Al-Imran: 14.
Wanita adalah perhiasan dunia yang paling indah
Diantara semua bentuk kenikmatan dunia yang digandrungi manusia, Allahsubhanahu wa ta’ala menempatkan wanita pada posisi pertama dari segala bentuk kenikmatan lainnya. Hal ini tentunya bukan tanpa makna, tetapi karena memang diatara segala keindahan dunia ini wanita yang paling menggoda. Karena itulah Imam Alqurtubi menyebutkan dalam tafsirnya:
” Allah memulai kenikmatan dengan wanita karena betapa condongnya jiwa terhadap mereka, karena mereka adalah jerat rajutan syaitan menjadi fitnah bagi kaum lelaki.”
” Allah memulai kenikmatan dengan wanita karena betapa condongnya jiwa terhadap mereka, karena mereka adalah jerat rajutan syaitan menjadi fitnah bagi kaum lelaki.”
Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
ما تركت بعدي فتنة أشد على الرجال من النساء) أخرجه البخاري ومسلم(.
“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” HR. Albukhari dan Muslim.
ما تركت بعدي فتنة أشد على الرجال من النساء) أخرجه البخاري ومسلم(.
“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” HR. Albukhari dan Muslim.
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah : hadis ini menerangkan bahwa fitnah wanita itu paling dahsyat dibandingkan fitnah selainnya, sebagaimana yang telah diperkuat dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :” Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita..” maka Allah menjadikan kecintaan terhadap mereka bagian dari syahwat yang digandrungi manusia, dan Allah menempatkan mereka pada posisi pertama sebelum fitnah lainnya sebagai bentuk isyarat bahwa mereka adalah sumber segala fitnah…
Berkata sebagian ahli hikmah: “ wanita itu seluruhnya jelek, sejelek-jelek apa yang terdapat pada mereka bahwa betapa butuhnya (para lelaki) kepada mereka, padahal mereka adalah makhluk yang kurang akal dan agamanya, terkadang mereka mampu menggiring lelaki untuk melakukan tindakan-tindakan yang hakikatnya tidak layak dilakukan karena dianggap tindakan yang kurang akal dan agama, seperti menyibukkan mereka sehingga lalai dari hal-hal yang dituntut oleh agama, bahkan terkadang mereka menerumuskan mereka rangka untuk sekedar mewujudkan ambisi dunia, dan itu adalah kerusakan yang paling terdahsyat.
Imam Muslim meriwayatkan dari hadis Abu Sa’id:
واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.
واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.
“takutlah kalian terhadap (fitnah wanita) karena sesungguhnyya awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah di sebabkan wanita”.
Ungkapan salaf terhadap fitnah wanita
Berkata Imran bin Abdullah al-Khuza’iy : berkata Said bin Musayyab: Tidaklah aku mengkhawatirkan diriku terhadap sesuatu sebagaimana khawatirku terhadap(fitnah)wanita !” maka para murid-muridnya berkata:”Wahai Abu Muhammad bukankan orang dalam usia seperti anda sekarang tidak lagi berhajat kepada wanita dan tidak pula digemari wanita?! Maka Sa’id menjawab:” itualah unggkapanku (yang jujur) kepada kalian”, padahal ketika itu dia telah tua renta dan buta(siyar 4/241).
Berkata Ali bin Zaid: Berkata Said bin Musayyab kepada kami-padahal ketika itu ia telah berusia delapan puluh empat tahun dan telah buta sebelah matanya dan dia melihat hanya dengan yang sebelahnya: tidak ada yang kukhawatirkan terhadap diriku sebagaimana kekhawatiranku terhadap fitnah wanita”. (siyar 4/ 237)
Berkata Said bin Mussayyib:” Tidak lah syaitan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya)dengan wanita. (siyar 4/237).
Berkata Ibnu Sirin rahimahullah:” Demi Allah aku tidak pernah memandang(wanita) selain istriku– Ummu Abdillah—baik ketika dalam keaadan sadar ataupun dalam mimpi, sesungguhnya pernah aku bermimpi melihat wanita dalam tidurku maka aku sadar bahwa dia tidak halal bagiku,seketika kupalingkan pandanganku.
Adalah Rabi’ bin Khustaim rahimahullah senantiasa memalingkan pandangannya dari kaum wanita, maka pada suatu saat lewat rombongan kaum wanita dihadapannya, Rabi’ segera memejamkan kedua matanya sehingga para wanita tersebut menganggapnya buta dan berlindung dari musibah buta.
Berkata Atho’ bin Abi Rabah rahimahullah : “Jika aku diamanahi untuk menjadi penjaga baitul mal maka aku yakin akan mampu menjaga amanah, namun aku tidak pernah merasa aman dari (fitnah wanita) sekalipun terhadap seorang budak wanita hitam yang jelek.(Siyar 5/87).
Berkata Abu Al-Malih:” aku pernah mendengar Maimun bin Mihran berkata:”Jika diperintahkan untuk menjaga Baitul mal lebih kusuka daripada diamanahi manjaga seorang wanita”. (siyar/ 77).
Agar wanita tidak menjadi fitnah
Mengingat betapata dahsyatnya fitnah wanita bagi pria maka Islam telah menetapkan aturan-aturan yang begitu sempurna untuk menjaga kehormatan wanita dan menjaga masyarakat dari fitnah mereka,diantara aturan tersebut:
Mengingat betapata dahsyatnya fitnah wanita bagi pria maka Islam telah menetapkan aturan-aturan yang begitu sempurna untuk menjaga kehormatan wanita dan menjaga masyarakat dari fitnah mereka,diantara aturan tersebut:
1.Melarang kaum wanita agar tidak merendah-rendahkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis.
2.Melarang kaum wanita sering-sering keluar rumah kecuali jika ada hajat yang harus ditunaikan.
3.Melarang kaum wanita ber tabarruj (berdandan dan berhias menarik perhatian para lelaki) ketika keluar rumah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada istri-istri Nabi shallallahu ’alaihi wasallam sebagai contoh suri tauladan bagi kaum wanita untuk dijadikan panutan:
يانساء النبي لستن كأحد من النساء إن اتقيتن فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلن قولا معروفا وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا .واذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله والحكمة إن الله كان لطيفا خبيرا
“wahai para istri Nabi, kalian tidaklah sama dengan salah sorang wanita lainnya, maka jika kalian bertaqwa janganlah merendah-rendahkan suara hingga membuat condong kepada kalian orang-orang yang di hatinya ada penyakit, dan katakanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana yang diperbuat orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, maka tegakanlah sholat dan tunaikan zakat dan patuhilahh Allah dan RasulNya, sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dari kalian segala kekejian wahai Ahlul Bait dan mensucikan kalian. Dan ingatlah apa-apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan hikmah sesungguhnya Allah Maha lembut lagi Maha Mengetahui”.QS. Al- Ahzab: 32-34.
Berkata Ibnu Katsir:”Ini adalah adab-adab yang diperintahkan Allah kepada para istri Nabi [s] dan tentunya kaum wanita umat ini juga diperintahkan untuk mengikuti mereka, Maka Allah menyeru para istri Nabi –jika mereka bertakwa kepada Allah, karena mereka tidak dapat disamakan dengan kaum wanita lainnya, karena mereka tidak akan mungkin menyamai keutamaan dan kedudukan para istri Nabi—yaitu agar mereka tidak merendahkan suara. Maksudnya menurut imam Assuddi’ dan ulama lainnya: tidak melembut-lembutkan suara ketika berbicara dengan pria…maknanya yaitu hendaklah ketika berbicara dengan lelaki asing tidak berbicara mendayu-dayu sebagaiman dia berbicara pada suaminya.
Dan firmannya:” Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian” maksudnya: hendaklah kalian menetap dirumah-rumah kalian dan tidak keluar jika tidak ada hajat. Seperti keluar untuk melaksanakan sholat di masjid dengan syarat-syarat yang ditetapkan sebagaimana sabda Nabi [s]: Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk pergi ke masjid-masjid milik Allah, dan hendaklah mereka keluar dengan tidak menggunakan parfum, dalam sebagian riwayat: Dan Rumah mereka lebih baik bagi mereka”.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bazzar bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
إن المرأة عورة ، فإذا خرجت استشرفها الشيطان ، وأقرب ما تكون بروحة ربها وهي في قعر بيتها ”
إن المرأة عورة ، فإذا خرجت استشرفها الشيطان ، وأقرب ما تكون بروحة ربها وهي في قعر بيتها ”
“sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika dia keluar niscaya akan dihiasi oleh syaitan, dan sedekat-dekatnya seorang wanita dengan Tuhannya yaitu tatkala dia di dalam rumahnya”.
4.Melarang berkhulwat dengan lelaki yang bukan mahram dan tidak halal baginya, sekalipun ada hubungan kekerabatan dengan suami.
Ketika konsep agama yang mulia ini tidak dipahami kaum muslimin; ketika pergaulan muda-mudi dilepas tanpa kekangan syariat; ketika ikhtilath dianggap hal yang wajar; masuk ke rumah-rumah ipar dan tinggal bersamanya tanpa batasan syariat dianggap hal yang lumrah…maka lihatlah betapa perzinahan telah meluluh lantakkan bangunan masyarakat, merusak keturunan, mendatangkan berbagai penyakit, menjadi sebab meninggkatnya praktek aborsi terhadap bayi-bayi yang tidak berdosa, anak-anak baru lahir yang di buang ditong sampah atau jalanan….dst, –hanya kepada Allah kita mengadu—melihat rusaknya zaman.
Ketika Alquran mencela prilaku orang-orang jahiliyyah yang membunuh anak mereka hidup-hidup,ternyata sejarah kembali berulang di zaman ini; zaman yang dianggap telah modern…ma’azallah.
Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
“إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ
Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat wanita” , maka seseorang bertanya:” bagaimana dengan ipar(sepupu) wahai Rasulullah? Beliau menjawab :” ipar(sepupu) itulah letak kebinasaan”. HR. Bukhari dan Muslim.
“إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ
Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat wanita” , maka seseorang bertanya:” bagaimana dengan ipar(sepupu) wahai Rasulullah? Beliau menjawab :” ipar(sepupu) itulah letak kebinasaan”. HR. Bukhari dan Muslim.
Bersabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:
لا يخلون رجلٌ بامرأة إلا ومعها ذو محرم
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram baginya”. HR. Bukhari dan Muslim
لا يخلون رجلٌ بامرأة إلا ومعها ذو محرم
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram baginya”. HR. Bukhari dan Muslim
5.Melarang segala macam bentuk sarana menuju perzinahan seperti : memandang lawan jenis dnegan syahwat, berpacaran, berkomunikasi bebas antara pria dan wanita; menonton acara-acara yang membangkitkan birahi, baik dari siaran-siaran televisi swasta yang sarat muatan fornografi dan forno aksinya; melalui film-film, sinetron-sinetron dll, ataupun via internet; mendengarkan berbagai musik dan lagu-laguan yang menghanyutkan dan menghumbar syahwat; mengkonsumsi berbagai media cetak berbau maksiat baik dari Koran-koran maupun majalah-majalah….dst.
Allah berfirman:
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
Jangan dekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.QS: Al-Isra: 32.
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
Jangan dekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.QS: Al-Isra: 32.
Penutup
Senoga Allah swt senantiasa menjaga kita semua dari segala mancam bentuk fitnah di dunia ini, baik yang zahir maupun yang batin, Ya Allah… sesungguhnya kami bermohon denganMu dari azab neraka jahannam, dari azab kubur, dan dari fitnah ketika hidup dan fitnah kematian, sebagaimana kami bermohon padaMu di jauhkan dari fitnah Dajjal. Amin.
Senoga Allah swt senantiasa menjaga kita semua dari segala mancam bentuk fitnah di dunia ini, baik yang zahir maupun yang batin, Ya Allah… sesungguhnya kami bermohon denganMu dari azab neraka jahannam, dari azab kubur, dan dari fitnah ketika hidup dan fitnah kematian, sebagaimana kami bermohon padaMu di jauhkan dari fitnah Dajjal. Amin.
Batam, Sabtu, 10 Desember 2011 / 15 Muharram 1433 H
Abu Fairuz
Abu Fairuz
Home /
kisah islam
/ RUPANYA SHAHABAT NABI UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU PUNYA REKENING DI BANK SAMPAI SEKARANG!
0 RUPANYA SHAHABAT NABI UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU PUNYA REKENING DI BANK SAMPAI SEKARANG!
Diposting oleh Unknown on 16.12 · 0 komentar
Waqaf ini berupa bangunan hotel yang disewakan.. Tahu ga kalau khalifah Utsman bin Affan, salah seorang sahabat nabi yg pebisnis dan kaya raya, tapi murah hati dan dermawan.., ternyata memiliki rekening di salah satu bank di Saudi???
Bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau… Gimana ceritanya hingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..?? Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih.
Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zamzam.
Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut. Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.
Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya. “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan. “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu
hari. Bagaimana?” jelas Utsman. Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman. Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh. Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar2.. setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak2 yatim dan fakir miskin.. sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.. Begitulah seterusnya,
hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yg cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi. Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun.
Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.. Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi.. Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
Bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau… Gimana ceritanya hingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..?? Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih.
Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zamzam.
Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut. Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.
Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya. “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan. “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu
hari. Bagaimana?” jelas Utsman. Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman. Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh. Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar2.. setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak2 yatim dan fakir miskin.. sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.. Begitulah seterusnya,
hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yg cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi. Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun.
Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.. Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi.. Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
0 Apa Beda Ustadz Selebriti dan Ulama
Diposting oleh Unknown on 04.23 · 0 komentar
Ustadz selebriti dibandingkan ulama di masa silam amat berbeda jauh. Yang satu lebih mengutamakan ilmu. Yang satunya lagi menarik simpatik pendengar karena bisa membuat lelucon, guyon, mengundang tangis, namun sayang tidak mengedepankan ilmu. Popularitaslah yang diincar dan tarif tinggi yang jadi patokan untuk mengisi barang satu atau dua jam.
Para ustadz selebriti tidak mengetahui yang diomongkan apakah hadits yang shahih atau dusta, atau apakah yang disampaikan pada audience adalah kisah-kisah yang valid atau tidak ada asal-usulnya. Wallahul musta'an.
Para ustadz selebriti tidak mengetahui yang diomongkan apakah hadits yang shahih atau dusta, atau apakah yang disampaikan pada audience adalah kisah-kisah yang valid atau tidak ada asal-usulnya. Wallahul musta'an.
Kami ceritakan perkataan Ibnul Jauzi dalam kitab beliau Talbisul Iblis.
Dahulu para pemberi wejangan adalah para ulama dan fuqoha. Lihatlah bagaimana seorang ulama yang bernama 'Ubaid bin 'Umair menghadiri majelisnya 'Abdullah bin 'Umar -seorang sahabat Nabi yang mulia-. Sedangkan 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menghadiri majelis yang biasa membawakan kisah-kisah. Kualitas bermajelis ilmu kemudian semakin merosot. Hingga orang-orang yang tidak berilmu yang angkat bicara setelah itu. Akhirnya, bermajelis dengan para ulama dijauhi. Majelis orang yang tidak berilmu inilah yang hadir beda, bahkan sampai menarik hati orang awam dan kaum wanita. Padahal majelis-majelis ini tidak diisi dengan ilmu. Hanya kisah-kisah yang memikat orang-orang bodoh yang disampaikan. Namun ujung-ujungnya banyak bid'ah yang tersebar di majelis semacam ini.
Pembawa kisah-kisah tersebut hanya menyampaikan hadits-hadits palsu (hadits maudhu') berisi motivasi atau nasehat yang membuat merinding (takut). Iblis lantas menghias-hiasi para pendengar seakan-akan mereka diajak kepada kebaikan dan dijauhkan dari kejelekan.
Menyampaikan hadits-hadits palsu seperti itu dalam ceramah termasuk bentuk melampaui batas dalm syari'at (yang keliru). Seakan-akan syariat itu tidak sempurna, butuh penyempurnaan (dengan hadits-hadits yang bukan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, -pen). Mereka lupa akan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka silakan ia ambil tempat duduknya di neraka." Hadits mutawatir. (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 115).
Ibnul Jauzi juga mengatakan,
Para narrator yang tercela adalah yang umumnya hanya membawa kisah tanpa menyebutkan faedah ilmu di dalamnya. Bahkan narasi (cerita) yang disampaikan kadang keliru bahkan suatu yang hal yang mustahil dibayangkan.
Adapun jika kisah yang disebutkan benar, wajib menjadikannya sebagai wejangan. Inilah yang terpuji.
Ahmad bin Hambal pernah berkata,
ما أحوج الناس إلى قاص صدوق
"Manusia itu sangat butuh sekali pada kisah-kisah yang benar (kredibel atau jujur)." (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 114-115).
Kenyataan ustadz selebriti yang ada saat ini yang bermunculan di televisi-televisi hampir seperti yang diceritakan oleh Ibnul Jauzi di atas. Banyak yang hanya pintar orator. Banyak yang terampil membuat orang mudah menangis di majelis. Banyak pula yang hanya jadi narrator dengan membawa hadits-hadits dho'if atau palsu. Sedikit di antara mereka yang berilmu dengan menukil ayat Al Qur'an, hadits shahih atau bahkan perkataan ulama salaf.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
إنما الفقيه من يخشى الله
"Orang yang faqih (berilmu) adalah yang takut pada Allah." Dinukil pula dari Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi. Cukup nasehat ini menjadi isyarat pada kita manakah orang yang berilmu dan manakah orang yang cuma cari kemasyhuran dan ketenaran. Bandikan dengan da'i ilallah (da'i yang mengajak manusia pada jalan Allah dan kebenaran)!
Hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk pada kebenaran.
Referensi:
Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis karya Ibnul Jauzi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1429 H.
---
Akhukum fillah,
Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)
Dahulu para pemberi wejangan adalah para ulama dan fuqoha. Lihatlah bagaimana seorang ulama yang bernama 'Ubaid bin 'Umair menghadiri majelisnya 'Abdullah bin 'Umar -seorang sahabat Nabi yang mulia-. Sedangkan 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menghadiri majelis yang biasa membawakan kisah-kisah. Kualitas bermajelis ilmu kemudian semakin merosot. Hingga orang-orang yang tidak berilmu yang angkat bicara setelah itu. Akhirnya, bermajelis dengan para ulama dijauhi. Majelis orang yang tidak berilmu inilah yang hadir beda, bahkan sampai menarik hati orang awam dan kaum wanita. Padahal majelis-majelis ini tidak diisi dengan ilmu. Hanya kisah-kisah yang memikat orang-orang bodoh yang disampaikan. Namun ujung-ujungnya banyak bid'ah yang tersebar di majelis semacam ini.
Pembawa kisah-kisah tersebut hanya menyampaikan hadits-hadits palsu (hadits maudhu') berisi motivasi atau nasehat yang membuat merinding (takut). Iblis lantas menghias-hiasi para pendengar seakan-akan mereka diajak kepada kebaikan dan dijauhkan dari kejelekan.
Menyampaikan hadits-hadits palsu seperti itu dalam ceramah termasuk bentuk melampaui batas dalm syari'at (yang keliru). Seakan-akan syariat itu tidak sempurna, butuh penyempurnaan (dengan hadits-hadits yang bukan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, -pen). Mereka lupa akan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka silakan ia ambil tempat duduknya di neraka." Hadits mutawatir. (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 115).
Ibnul Jauzi juga mengatakan,
Para narrator yang tercela adalah yang umumnya hanya membawa kisah tanpa menyebutkan faedah ilmu di dalamnya. Bahkan narasi (cerita) yang disampaikan kadang keliru bahkan suatu yang hal yang mustahil dibayangkan.
Adapun jika kisah yang disebutkan benar, wajib menjadikannya sebagai wejangan. Inilah yang terpuji.
Ahmad bin Hambal pernah berkata,
ما أحوج الناس إلى قاص صدوق
"Manusia itu sangat butuh sekali pada kisah-kisah yang benar (kredibel atau jujur)." (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 114-115).
Kenyataan ustadz selebriti yang ada saat ini yang bermunculan di televisi-televisi hampir seperti yang diceritakan oleh Ibnul Jauzi di atas. Banyak yang hanya pintar orator. Banyak yang terampil membuat orang mudah menangis di majelis. Banyak pula yang hanya jadi narrator dengan membawa hadits-hadits dho'if atau palsu. Sedikit di antara mereka yang berilmu dengan menukil ayat Al Qur'an, hadits shahih atau bahkan perkataan ulama salaf.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
إنما الفقيه من يخشى الله
"Orang yang faqih (berilmu) adalah yang takut pada Allah." Dinukil pula dari Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi. Cukup nasehat ini menjadi isyarat pada kita manakah orang yang berilmu dan manakah orang yang cuma cari kemasyhuran dan ketenaran. Bandikan dengan da'i ilallah (da'i yang mengajak manusia pada jalan Allah dan kebenaran)!
Hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk pada kebenaran.
Referensi:
Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis karya Ibnul Jauzi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1429 H.
---
Akhukum fillah,
Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)
Home /
kisah islam
/ Wong Fei Hung; Ulama, Ahli Pengobatan dan Pendekar Islam
0 Wong Fei Hung; Ulama, Ahli Pengobatan dan Pendekar Islam
Diposting oleh Unknown on 02.29 · 0 komentar
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film-film Cina. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung? Fei Hung (Pahlawan Negeri Tiongkok) adalah Muslim Sejati, tapi pemerintah Komunis menutupinya.
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi.
Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.
Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.
Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.
Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.
Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena isteri-isterinya meninggal dalam usia pendek. Setelah isteri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.
Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. [islampos/berbagaisumber]
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi.
Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.
Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.
Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.
Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.
Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena isteri-isterinya meninggal dalam usia pendek. Setelah isteri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.
Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. [islampos/berbagaisumber]
Home /
kisah islam
/ Ternyata Samson Adalah Seorang Nabi
0 Ternyata Samson Adalah Seorang Nabi
Diposting oleh Unknown on 02.04 · 0 komentar
Dari Abi Zar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” (Hadits riwayat At-Turmuzy)
Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa.
Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa.
Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir.
Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.
Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.
Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.
Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”
Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.
Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.
Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti.
Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak.
Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.
Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?”
Rasullah menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam’un.”
Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.
sumber: update-islam.blogspot.com
Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.
Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.
Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.
Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”
Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.
Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.
Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti.
Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak.
Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.
Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?”
Rasullah menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam’un.”
Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.
sumber: update-islam.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)



